Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Kita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2008

Pohon Bukan Solusi Pemanasan Global

Apa yang dulu dipandang sebagai solusi untuk masalah emisi gas CO2, yakni kemampuan pohon menyerap karbondioksida hasil aktivitas manusia (CO2 antropogenik), kini mulai diragukan "keampuhannya" karena fenomena pemanasan global tetap saja terjadi.

Sebuah penelitian selama 20 tahun yang menganalisa 30 titik di Kutub Utara mendapati bahwa kemampuan pohon menyerap CO2 terus menurun, padahal saat ini berkembang kampanye yang menyebutkan bahwa dengan menanam banyak pohon maka laju perubahan iklim bisa ditekan.
Gas karbondioksida yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia biasanya diserap oleh pohon dan laut, untuk kemudian dilepaskan pada masa yang akan datang. Tapi ini bukanlah akhir dari siklus karbon.

Seperti dikutip dari situs warta lingkungan hidup www.enn.com, pohon melepaskan simpanan CO2-nya saat ia membusuk atau terurai. Hal ini kemudian memunculkan siklus karbon.

Temperatur yang semakin tinggi akibat perubahan iklim tidak hanya meningkatkan laju pertumbuhan pohon dan tanaman di seluruh dunia, tapi juga memicu emisi CO2 yang berlebihan. Pohon kemudian berubah peran dari penyerap CO2 menjadi produsen gas karbon lewat proses penguraian yang lazim terjadi pada musim-musim akhir pertumbuhannya.

Bukti terbaru yang dikumpulkan dari seluruh dunia menunjukkan bahwa awal musim dingin terjadi mundur dari biasanya, sementara musim panas datang lebih awal. Di Bumi belahan Utara, temperatur pada musim semi dan musim gugur naik sekitar 1,1 dan 0,8 derajat Celsius dalam kurun waktu sekitar 2 dekade terakhir. Ini artinya musim pertumbuhan pohon semakin lama, dan para ahli menduga hal tersebut sebagai hal yang bagus buat menekan laju perubahan iklim.

Bahkan pertambahan pohon di muka Bumi bisa terlihat dari luar angkasa, citra satelit menunjukkan bahwa luasan hijau semakin besar di permukaan Bumi dari masa sebelumnya. Namun demikian, data terbaru menunjukkan bahwa pola berpikir seperti terlalu menyederhanakan masalah.

Sekitar 30 titik pengamatan yang tersebar di Siberia, Alaska, Kanada, dan Eropa diteliti kadar CO2 di lapisan atmosfernya. Yang dikaji bukan cuma CO2 saat proses fotosintesis tapi juga CO2 yang dilepaskan pohon dan mikroba selama proses respirasi.

Tim peneliti pun memusatkan penelitiannya pada musim gugur, masa ketika hutan berubah peran dari penyimpan karbon menjadi produsen karbon. Dan ternyata, periode mengurainya pohon datang lebih awal dalam satu tahun, di beberapa tempat menunjukkan awal periode terjadi beberapa hari lebih cepat sementara di tempat lain beberapa pekan lebih cepat dari biasa.

Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa jumlah CO2 di atmosfer bertambah lebih cepat dari perkiraan awal - dengan kata lain laju perubahan iklim akan terus meningkat pada masa mendatang.

Menurut Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), manusia hanya punya waktu 8 tahun untuk mencegah datangnya efek terburuk dari perubahan iklim. Namun waktu dan bukti-bukti ilmiah haruslah dijadikan umat manusia sebagai panduan untuk bertindak, dan tidak ada kata lain solusinya adalah menurunkan emisi gas rumah kaca, menurunkan emisi CO2.


Kutub Utara Terancam Tanpa Es

Kutub Utara tak selalu identik dengan daratan beku, rupanya. Beberapa ilmuwan memperkirakan, meski singkat, ada saat ketika kutub utara tanpa es musim panas ini. "Peluangnya 50-50. kondisi cuaca dan lautan dalam beberapa pekan mendatang menentukan seberapa banyak es yang meleleh. Yang jelas, pertanda awalnya tidak bagus," kata Mark Serreze, ilmuwan es yang juga peneliti senior di Pusat Data Es dan Salju Nasional, universitas Colorado, di Boulder, Colorado, Amerika Serikat.
Serezze mengaitkan kondisi itu dengan pemanasan global yang memang dianggap telah melelehkan lapisan es di daratan Artik tersebut puluhan tahun terakhir. "Lapisan es yang menutupi daratan kutub utara saat ini sangat tipis sehingga mungkin saja lapisan es itu meleleh habismusim panas ini," paparnya. Kalau perkiraan tersebut benar, itu akan menjadi yang pertama sepanjang sejarah. Pertama? Bukankah banyak ilmuwan yakin kutub utara pernah meleleh sebelumnya? "Memang, tapi tidak pada masa modern," tegas Serreze.

Dalam tulisannya yang dimuat situs surat kabar terbitan London The Independent edisi jumat (27/6), Serreze khawatir lautan es Artik bisa saja benar-benar terbelah di kutub utara sehingga kapal bisa berlayar di puncak dunia yang mestinya beku tersebut. "Secara simbolis, ini luar biasa penting. Seharusnya, yang ada di kutub utara es, bukan air," katanya. Sepanjang yang pernah dilihat manusia, lanjut Serreze, tak tampak tanah di kutub utara. yang terlihat hanya bongkahan es raksasa yang tak pernah meleleh sempanjang tahun. Namun, para ilmuwan telah menyaksikan lautan es Artik meleleh kian cepat dari tahun ke tahun. Belakangan, tiap kali musim panas tiba, para peneliti melihat lapisan es di benua beku itu makin tipis. Saat musim dingin tiba, memang terbentuk lapisan es baru. "Namun, lapisan ini juga tak cukup tebal sehingga langsung meleleh habis saat musim panas berikutnya datang,: tambahnya.

Beberapa tahun terakhir, serangkaian studi memperkirakan, kutub utara mungkin akan kehabisa es dalam beberapa puluh tahun mendatang. Sebuah studi yang dirilis pada 10 Juni menyebutkan, daya mencair es di kutub utara yang demikian cepat bisa mengancam wilayah sekitarnya. Musim panas tahun lalu, pencairan es Laut Artik juga mencatat rekor. Yakni, menyusut lebih dari 30 persen daripada biasanya. Di sekitar puncak pencairan pada sSeptember, suhu udara di atas daratan sebelah barat Artik tercatat naik lebih dari 2 derajat Celsius dibandingkan rata-rata suhu pada 1978-2006.


Sumber : Jawa Pos