Tampilkan postingan dengan label Seputar Jantung Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Jantung Kita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juli 2008

Penyakit Jantung Koroner

Siapapun dapat memiliki kadar kolesterol yang tinggi, baik orang tua maupun orang muda, gemuk maupun kurus, rajin berolahraga maupun tidak, dan seterusnya.

Penderita kadar kolesterol tinggi khususnya LDL adalah sasaran utama untuk menderita penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner. Fakta menunjukkan bahwa 80% pasien penyakit jantung meninggal mendadak karena penyakit jantung koroner, dan bahkan 50% di antaranya tanpa gejala sebelumnya.


Penyakit ini disebabkan oleh kadar kolesterol LDL berlebihan yang membentuk plak aterosklerosis pada pembuluh darah koroner jantung dan mengakibatkan otot jantung tidak menerima aliran darah.


Kolesterol LDL merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner. Selain LDL, faktor risiko lain yang harus diukur dan diketahui adalah:

  • Kebiasaan merokok
  • HDL rendah (<>
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi): 140/90 atau sedang dalam pengobatan antihipertensi
    Usia pria > 45 tahun, dan wanita > 65 tahun
  • Adanya riwayat keluarga langsung atau sedarah yang menderita penyakit jantung/stroke (Jika pria <>

Gejala-gejala penyakit jantung koroner adalah :

  • Rasa tertekan (seperti ditimpa beban, nyeri, terjepit, diperas, terbakar) di dada, dan dapat menjalar ke lengan kiri, leher, dan punggung
  • Tercekik atau sesak selama lebih dari 20 menit
  • Keringat dingin, lemah, jantung berdebar, dan pingsan
  • Semakin kurang istirahat, tetapi bertambah berat dengan aktivitas

Sumber : www.info-sehat.com

Selasa, 01 Juli 2008

Penyakit Jantung Koroner, Si Pencabut Nyawa

Ny. Tati sama sekali tidak menyangka kalau obrolan dengan suaminya malam itu adalah obrolan terakhir sebelum sang suami tercinta pergi untuk selamanya. Pak Sakirun, meninggal setelah mendadak mengalami sesak nafas dibarengi dengan keluarnya keringat dingin dan tubuh lemas. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Pak Sakirun meninggal akibat serangan jantung koroner.

Sesak napas, nyeri dada (khususnya sisi kiri), sakit pada ulu hati, leher terasa tertekan, seperti tercekik, atau nyeri yang menjalar ke daerah bahu serta lengan kiri sampai jari-jari mungkin merupakan gejala awal serangan jantung koroner yang perlu diwaspadai. Penyebabnya tidak lain karena pembuluh koroner jantung tersumbat (atherosklerosis), sehingga kebutuhan otot jantung akan oksigen tidak terpenuhi.

Gejala-gejala seperti ini bisa juga terjadi pada penyakit lain, seperti sesak napas yang disebabkan oleh asma, dan nyeri pada ulu hati pada maag. Kesalahan diagnosa bisa saja terjadi karena kemiripan gejala. Karena itu, tak ada salahnya Anda segera melakukan penanganan secepatnya. Jangan tunda, berangkat segera ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Hal ini untuk mencegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan. Ingatlah, serangan jantung dapat membawa kematian.

Sayangnya, serangan jantung koroner seringkali terjadi secara mendadak dan tidak jarang pada malam hari sehingga penderita seringkali tidak tertolong. Mengingat mendadaknya serangan tersebut, maka Anda yang mempunyai gejala atau berbakat menderita kelainan jantung sebaiknya rutin memeriksakan diri. Apalagi jika usia Anda sudah mencapai kepala empat, perokok, menderita darah tinggi, kecing manis, kegemukan, dan jarang berolahraga. Periksakan diri minimal sekali dalam setahun. Bila perlu, dokter akan menganjurkan jangka waktu pemeriksaan yang lebih pendek misalnya setiap enam bulan atau bahkan setiap bulan.

Pola Makan

Kecenderungan pola makan yang kurang sehat pada masyarakat perkotaan sering dikaitkan dengan penyakit jantung koroner (PJK). Kesalahan pola makan itu tidak lain karena ketidakseimbangan komposisi makanan yang dikonsumsi.

Fast food (makanan siap saji) yang makin menjamur di perkotaan mengandung protein, lemak, karbohidrat yang tinggi, dan sebaliknya kandungan serat, vitamin dan mineralnya rendah. Hal ini dapat menjadi pencetus dari berkembangnya penyakit degeneratif, seperti PJK, hipertensi, diabetes, dan penyakit pembuluh darah lainnya. Gaya hidup di perkotaan yang sering dilanda stres juga dapat memacu kerja jantung dan meningkatkan tekanan darah. Kebiasaan itu masih diperparah dengan merokok.

Tidak ada motto kuno yang lebih baik dari "mencegah lebih baik daripada mengobati". Ini berlaku untuk siapapun, terlebih jika Anda termasuk orang yang memiliki risiko tinggi menderita kelainan jantung. Caranya, perbaiki pola makan sekarang juga. Makanan yang bervariasi dan bergizi seimbang adalah makanan yang sehat untuk Anda konsumsi.

Diet merupakan kunci penting bagi pencegahan PJK. Sebab dengan menerapkan diet yang baik, penderita dapat mengendalikan kemungkinan tingginya kadar kolesterol dan garam yang sangat berhubungan dengan penyakit ini. Selain itu, penderita juga dapat mengatur berapa jumlah serat, gula, protein, mineral, ratio antara lemak jenuh dan tidak jenuh yang harus dicukupi setiap hari. Diet juga menurunkan risiko terjadinya penyakit-penyakit lain. Dan jangan lupa, berolahraga secara teratur.Yang penting untuk Anda jalani, terutama dalam mengatur asupan makanan yang Anda konsumsi setiap hari:
  • Pilihlah ikan daripada daging, kecuali daging yang benar-benar tak berlemak
  • Kurangi garam. Misalnya dengan membatasi makanan kalengan, makanan yang diasapkan, ikan asin, dan jenis makanan awetan lain
  • Hindari makanan berlemak atau yang digoreng. Makanan yang direbus atau dikukus dan dipanggang jauh lebih aman daripada yang digoreng
  • Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan


Sumber bahan: Rubrik ideal, bulletin info sehat edisi 8

Mengapa Serangan Jantung di Pagi Hari ?

Kematian akibat serangan jantung sering terjadi dan sekitar 30 - 50 persen serangan jantung dan juga stroke terjadi pada pagi hari. Para ahli di luar negeri mencoba mencari jawaban mengapa kejadian serangan jantung ataupun stroke sering terjadi pada pagi hari. Ternyata jawabannya ada pada endotel pembuluh darah, yaitu lapisan dalam dari pembuluh darah, tempat mengalirnya darah.

Tubuh mempunyai keseimbangan antara tekanan darah dan aliran darah dengan adanya kelenturan dari pembuluh darah, terutama dari lapisan dalam yang disebut endotel. Pada pagi hari, terjadi penurunan kelenturannya, hingga lebih dari 40 persen dibanding dengan kelenturannya pada saat siang.

Tapi para ahli belum mengetahui apakah perubahan kelenturan ini yang menjadi penyebab terjadinya penyakit jantung atau mungkin ini menjadi suatu pemicu untuk terjadinya serangan jantung.

Sumber: Circulation

Dua Gelas Kopi Sehari Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Bagi penggemar kopi, minuman hitam pekat ini merupakan minuman yang 'wajib' diminum setiap harinya. Bila tidak minum sehari saja, pasti merasa ada sesuatu yang kurang dan kerjapun menjadi kurang bersemangat. Belum lagi efek withdrawl yang dapat terjadi. Walaupun begitu, sebaiknya Anda tidak mengkonsumsinya lebih dari segelas sehari karena dapat menyebabkan risiko yang merugikan bagi kesehatan Anda nantinya.

Mengkonsumsi kopi yang lebih dari segelas sehari akan meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami peradangan pada pembuluh darah jantungnya. Hal ini terlihat pada 3.000 orang yang diteliti di Yunani. Mereka mengkonsumsi lebih dari 200 ml kopi perhari dan terjadi peningkatan 30% kadar CRP (C-reactive protein) dalam darah dan jumlah sel darah putihnya (Lekosit) meningkat 3%. CRP dan Lekosit merupakan tanda adanya suatu peradangan atau inflamasi dari pembuluh darah jantung. Dimana peradangan ini akan meningkatkan risiko seseorang untuk menderita serangan jantung.

Jadi jagalah jantung Anda dengan cukup mengkonsumsi segelas kopi sehari, jangan tambah lagi. Karena gelas kedua akan meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung.

Sumber : the American Journal of Clinical Nutrition

Tekanan Darah Prediksi Penyakit Jantung

Nilai atas tekanan darah, atau yang disebut angka sistolik, yang diukur setelah selesai melakukan suatu kegiatan olahraga, dapat dipakai untuk memprediksi apakah seorang pria berisiko untuk menderita penyakit jantung.

Cara ini dapat untuk membantu mengetahui risiko penyakit jantung seseorang, selain cara-cara yang telah ada saat ini seperti dengan pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) dan keluhan nyeri dada, serta keadaan jantung selama diberikan latihan seperti pada tread-mill.

Penelitian yang dilakukan di Finlandia ini, dilakukan terhadap 2.336 orang pria yang berusia antara 42-61 tahun. Mereka semua dilakukan pemeriksaan tekanan darah sistoliknya setelah mereka selesai melakukan tes latihan dengan ergometer standard.

Hasil tekanan darah sistolik kemudian dihubungkan dengan risiko penyakit jantung di kemudian hari. Tekanan darah sistolik yang lebih besar dari 195 mmHg setelah 2 menit masa pemulihan dari latihan, berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 1,7 kali lipat. Dan setiap peningkatan 10 mmHg setelah 2 menit masa pemulihan dari latihan, berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 7 persen.

Hasil lain yang ditemukan, yaitu pria yang mempunyai perbedaan tekanan darah sistolik terbesar antara waktu istirahat dan waktu pemulihan setelah latihan, mempunyai risiko sebesar 39% untuk menderita penyakit jantung, dibanding dengan pria yang mempunyai perbedaan tekanan sistolik terendah.

Sumber: Jurnal Hypertension.

Infeksi Dapat Sebabkan Stroke dan Penyakit Jantung

Infeksi akut seperti infeksi pada saluran kemih?dan pernafasan, dapat menjadi pemicu terjadinya?serangan jantung?dan?stroke. Infeksi saluran nafas seperti radang pada bronkus, paru-paru dan infeksi kandung kemih dapat meningkatkan risiko jantung hingga lima kali lipat, dan risiko stroke hingga tiga kali lipat, pada saat pasien sakit.

Demikian hasil penelitian dari dokter-dokter di Inggris dalam New England Journal of Medicine. Dari hasil analisa terhadap catatan kesehatan pada hampir lima juta orang, sekitar 60.000 pasien mengalami serangan jantung pada tahun 1987-2001 an 55.000 yang menderita stroke, yang sebelumnya mengalami infeksi saluran nafas dan kandung kemih. Tapi tidak ada peningkatan risiko pada pasien yang mengalami infeksi flu dan vaksin tetanus atau saluran nafas sebelumnya.

Serangan jantung dan stroke ini terjadi terutama pada tiga hari pertama setelah infeksi tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan karena infeksi-infeksi tersebut menyebabkan peradangan. Peradangan sistemik (seluruh tubuh) akan meningkatkan kelainan atau gangguan pada pembuluh darah.

Seseorang yang telah berusia lanjut, sekitar 50 tahun ke atas, pada pembuluh darahnya dapat ditemukan adanya pengendapan, tapi banyak diantaranya yang tidak membahayakan. Dengan adanya infeksi, pengendapan tersebut menjadi tidak stabil dan rapuh, sehingga terlepas dan menyumbat pembuluh darah di otak atau jantung. Inilah yang mengakibatkan terjadinya stroke dan serangan jantung.

Dengan adanya penelitian ini, para ahli dapat melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke pada saat pasien mengalami peradangan seperti pada saat operasi atau infeksi.

Sumber : New England Journal of Medicine

Panduan Sederhana untuk Atasi Jantung Koroner

Panduan baru yang sederhana dalam Journal of the American Medical Association, dikeluarkan bagi para dokter dalam menangani pasien Sindroma Koroner Akut.

Panduan ini diharapkan akan banyak membantu dokter dalam menangani pasien Sindroma Koroner Akut. Banyak pasien yang tidak mendapat pengobatan optimal dikarenakan rumitnya dan banyaknya implementasi yang harus dikerjakan oleh dokter, obat yang harus diberikan serta perubahan pola hidup yang harus dilakukan.

Panduan yang berdasarkan abjad ini (ABCDE), dikembangkan oleh institusi kedokteran Johns Hopkins berdasarkan literatur medis yang diambil dari tahun 1990 hingga 2004. Dari sanalah dihasilkan pengelolaan yang aman dan efektif dalam mengatasi pasien yang mengalami Sindroma Koroner Akut.

Sindroma Koroner Akut terjadi sebagai akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah Koroner yang memberi makan pada jantung. Salah satu gejala yang sering ditemukan adalah adanya nyeri dada yang dapat timbul pada saat istirahat atau pada saat kerja ringan.

Panduan ini telah dilakukan uji klinis oleh American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC). Sekali pasien didiagnosa menderita Sindroma Koroner Akut, maka penanganan yang dapat diberikan adalah:
1. A untuk anti platelet terapi, anti koagulasi, Angiotensin Converting Enzyme inhibition dan Angiotensin receptor blockade.
2. B untuk Beta bloker dan kontrol Blood pressure (tekanan darah)
3. C untuk pengobatan Cholesterol dan penghentian rokok (Cigarette)
4. D untuk pengelolaan Diabetes dan Diet
5. E untuk latihan atau Exercise.

Sumber : Journal of the American Medical

Sarapan Dapat Cegah Penyakit Jantung

Banyak orang yang tidak melakukan sarapan pagi, dikarenakan kesibukan di pagi hari untuk segera berangkat kerja atau sekolah. Atau mungkin juga karena anggapan yang salah, bahwa dengan tidak sarapan pagi akan membantu menurunkan berat badan.

Sebaliknya, tidak mengkonsumsi sarapan pagi dapat membuat berat badan bertambah, dan malah berisiko untuk menderita penyakit jantung, demikian hasil dari penelitian terbaru yang dilakukan. Wanita sehat yang tidak sarapan selama dua minggu akan mengkonsumsi makanan yang lebih banyak pada siang dan malam harinya. Hasilnya, kadar kolesterol LDL (kolesterol 'buruk') akan meningkat dan kepekaan terhadap hormon insulin akan menurun, dibanding dengan wanita yang mengkonsumsi sarapan pagi setiap harinya.

Kadar kolestorol LDL yang tinggi dan gangguan kepekaan insulin merupakan faktor risiko utama untuk menderita penyakit jantung.

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari sarapan maupun tidak sarapan pagi terhadap kalori yang masuk dan dibakar sepanjang hari dan hubungannya dengan insulin, kadar kolesterol dan glukosa pada 10 wanita sehat dengan berat badan normal.

Selama 2 minggu, wanita tersebut mengkonsumsi sarapan pagi yang berisi semangkuk sereal dengan 2% susu pada jam 7 dan 8 pagi. Kemudian pada jam 10.30 dan 11.00, mereka diberikan makanan kecil berupa permen batangan. Kemudian mereka mengkonsumsi dua menu tambahan dan makanan ringan setiap harinya.

Setelah 2 minggu berlalu, para wanita tersebut mengikuti panduan baru dengan tidak mengkonsumsi sarapan pagi. Dan hanya mengkonsumsi sereal di waktu makan siang, sekitar pukul 12.00 siang. Kemudian mereka mengkonsumsi dua menu tambahan dan makanan ringan setiap hari selama dua minggu tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi sarapan pagi, kalori yang masuk lebih rendah 100 kalori dibanding dengan saat mereka tidak mengkonsumsi sarapan pagi. Dan kolesterol 'buruk', LDL, lebih rendah pada saat mereka mengkonsumsi sarapan pagi. Selain itu, sarapan pagi membuat respon insulin juga lebih baik, yang berarti risiko untuk menderita Diabetes juga menurun.

Walaupun tidak ada perbedaan berat badan bila mengkonsumsi sarapan pagi maupun tidak, tapi dengan peningkatan kolesterol dan kadar insulin saat tidak mengkonsumsi sarapan pagi, membuat mereka berisiko untuk menderita penyakit jantung di kemudian hari.

Sumber : the American Journal of Clinical Nutrition

Faktor Penyebab Serangan Jantung

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pola hidup seseorang sangat berperan dalam meningkatkan risiko terkena serangan jantung, seperti tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, kebiasaan merokok, dan juga jarang berolahraga. Sedangkan faktor risiko lainnya dapat berupa gangguan diabetes, kegemukan, riwayat keluarga yang terkena penyakit jantung koroner (PJK), stres, usia, dan jenis kelamin.
Pengendalian terhadap faktor-faktor risiko tersebut akan membantu seseorang terhindar dari aterosklerosis dan juga serangan jantung.

Tekanan darah tinggi

Menurut WHO, tekanan darah normal pada orang dewasa adalah maksimum 140/90 mmHg. Apabila tekanan darah seseorang di atas nilai tersebut pada beberapa kali pengukuran di waktu yang berbeda, maka orang tersebut dapat dikatakan menderita hipertensi. Penderita hipertensi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena serangan jantung dan stroke.
Kadar kolesterol yang tinggi?

Kolesterol yang tinggi dalam darah akan mempercepat terjadinya aterosklerosis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar kolesterol yang tinggi merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan terjadinya PJK. Perlu diketahui, kadar kolesterol yang baik bagi orang dewasa adalah tidak lebih dari 200 mg/dl. Mereka yang memiliki kadar kolesterol 240 mg/dl memiliki risiko dua kali lipat untuk terkena PJK dibandingkan mereka yang kolesterolnya di bawah 200 mg/dl.
Makanan dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi seperti sea food, kuning telur, susu jenuh, dan es krim ternyata dapat meningkatkan kolesterol dalam darah. Sedangkan minyak ikan, minyak jagung, dan minyak bunga matahari merupakan bahan makanan yang baik untuk kolesterol karena mampu meningkatkan kolesterol ?baik? (HDL) dalam darah. Jenis lemak lainnya dalam darah yaitu trigliserida. Kadar trigliserida yang baik adalah kurang dari 200 mg/dl. Trigliserida berasal dari lemak jenuh hewani dan nabati seperti kacang-kacangan, santan, coklat, nasi, roti, dan gula.
  • Kebiasaan Merokok
    Mereka yang mempunyai kebiasaan merokok sangat berisiko untuk terkena PJK karena:
    Merokok dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis melalui iritasi pada dinding pembuluh darah sehingga memudahkan terjadinya endapan kolesterol
  • Menurunkan kadar kolesterol "baik" (HDL)
  • Mempermudah terjadinya pembekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah dan mengakibatkan serangan jantung.
Jarang berolahraga
Penelitian memperlihatkan bahwa olahraga (seperti aerobik) yang teratur dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung, meningkatkan kemungkinan hidup apabila terkena serangan jantung, dan mengurangi risiko kematian yang mendadak.

Jumlah Asupan Kalori, Penting Untuk Jantung

Untuk kesehatan jantung, kini ditekankan pentingnya konsumsi makanan bernutrisi serta jumlah kalori yang seimbang dengan jumlah kalori yang dibakar oleh tubuh.

Orang dewasa maupun anak-anak disarankan untuk mengonsumsi makanan yang rendah kalori dan kaya akan nutrien, seperti buah, sayur, biji-bijian, kacang-kacangan, susu rendah lemak, dan ikan. Selain itu, dianjurkan pula untuk berolahraga secara rutin sedikitnya 30 menit per hari.

Disadari bahwa pola makan untuk penurunan berat badan yang seringkali gagal setelah dalam jangka waktu lama semakin mendorong banyak orang untuk menjalani pola makan dan gaya hidup yang sehat, yang setidaknya dapat mencegah terjadinya kenaikan berat badan selanjutnya.

Berhenti atau kebiasaan tidak penah merokok juga sangat berperan penting untuk kesehatan jantung. Namun, kini konsumsi suplemen tertentu (seperti minyak ikan dan plant sterol) dapat membantu mereka yang memiliki tingkat kolesterol dan trigliserida yang tinggi.

Berdasarkan Journal Circulation, rekomendasi yang kini disarankan untuk orang Amerika adalah konsumsi lemak jenuh kurang dari 7%, dimana rekomendasi sebelumnya adalah 10%. Sedangkan konsumsi lemak trans adalah kurang dari 1%.

Lemak jenuh maupun lemak trans diketahui dapat meningkatkan kolesterol ?jahat? (LDL), yang akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung. Lemak jenuh umumnya berasal dari produk hewani, sedangkan lemak trans umumnya terdapat dalam makanan yang dibakar atau digoreng, seperti crackers, pastries, kentang goreng, maupun roti.

Berdasarkan hal tersebut, kita disarankan untuk membatasi konsumsi lemak total jika memang ingin menurunkan berat badan. Pengurangan kalori tersebut dapat dilakukan dengan membatasi ukuran atau jumlah porsi makanan serta memilih makanan yang rendah kalori, seperti buah, sayur, dan biji-bijian yang kaya akan serat.

Sumber : Journal Circulation, Juni 2006

Serangan Jantung : Si Pembunuh No 1 !

Penyakit jantung hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Sayangnya, selama ini kecenderungan yang terjadi, pasien dengan risiko jantung baru mencari pengobatan atau informasi pada saat sudah terjadi serangan atau gejalanya sudah mulai terasa berat.

Penyakit jantung salah satunya dipicu oleh kadar kolesterol dalam darah. Ironisnya, kadar kolesterol yang tinggi kerap tak bergejala apa-apa. Menurut Dr. Antonia A Lukito, SP JP-FIHA dari RS Siloam Gleneagles, Tangerang, banyak pasien yang datang ke rumah sakit sudah dengan kondisi serangan jantung. Padahal pada situasi seperti ini, upaya pemulihan menjadi lebih sulit. Yang paling utama dilakukan pada kondisi ini adalah menghilangkan gejala dan mencegah serangan berulang.

Pasien dengan risiko tinggi harus menjaga diri agar tak sampai terjadi serangan jantung. Caranya dengan mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Usaha untuk mengendalikan faktor risiko adalah dengan diet, olahraga, dan kepatuhan pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dokter secara berkala serta meminum obat secara teratur. Diet dan olah raga adalah cara terpenting. Namun, jika kadar kolesterol terlalu tinggi, maka obat adalah cara selanjutnya yang ditempuh dokter untuk mengobati pasien.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri, walau seseorang wajib meminum obat untuk mengendalikan kadar kolesterolnya, masih banyak yang tidak mematuhi anjuran penggunaan obat. Alasannya beragam, mulai dari kurangnya pemahaman mengenai penyakit yang diderita, obat yang diminum, hingga masalah harga. Mengapa pasien selalu datang dalam keadaan yang terlambat? Diduga karena rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam mengontrol kesehatannya.

Perlu diketahui, penyakit jantung hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu. Angka kematian yang disebabkan serangan jantung di Indonesia mencapai 26-30%, bahkan untuk Jakarta mencapai 42.9%. Sedangkan kadar kolesterol tinggi di Indonesia mencapai 18% dari jumlah penduduk dan sebagian besar dari mereka juga terindikasi penyakit risiko tinggi lainnya, seperti serangan jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi.

Namun demikian, menurunkan kadar kolesterol saja seringkali tidak cukup. Yang penting adalah menurunkan risiko kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) akibat penyakit jantung dan pembuluh darah sehingga menciptakan kualitas hidup yang lebih baik, melalui diet, olahraga, dan kepatuhan.

Sumber : WHO, Preventing Chronic Diseases-A Vital Investment 2005

Secangkir Coklat Mencegah Stroke dan Serangan Jantung

Berdasarkan pengalaman sejarah, coklat diketahui sebagai obat berbagai penyakit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa coklat mungkin juga memiliki manfaat untuk mengobati penyakit jantung dan stroke. Sebuah tim penelitian di Southampton, Inggris, memperlihatkan bahwa minum secangkir coklat dapat mencegah seseorang dari penggumpalan darah.

Ketika darah yang menggumpal terjadi di otak atau hati, kemungkinan besar akan berakibat fatal. Sel-sel di dalam darah yang disebut platelet adalah penyebab penggumpalan tersebut dan tim peneliti menunjukkan bahwa coklat dapat melawan fungsi platelet.

Coklat mengandung zat yang disebut flavinoid yang juga ditemukan pada anggur merah. Flavinoid dapat mencegah penyakit jantung koroner. Bagaimanapun juga, penelitian mereka telah menemukan kandungan lain dalam coklat yang mungkin berguna untuk melawan platelet.

Temuan tersebut dapat digunakan untuk terapi pencegahan penyakit jantung dan stroke. Tapi, bisa juga berarti bahwa secangkir coklat panas yang lezat hanya penting bagi orang yang memiliki penyakit berisiko tinggi.

Penelitian lain di Belanda telah menunjukkan bahwa tipe darah manusia menentukan besarnya risiko menderita deep vein trombosis (DVT). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tipe darah A, B, atau AB memiliki risiko DVT yang tinggi.

Tipe darah A tanpa kandungan O berisiko tinggi karena membawa varian protein yang disebut faktor V Leiden yang mempengaruhi terjadinya penggumpalan. Varian protein ini ditemukan pada sekitar 3% dari keturunan Eropa.

Penelitian ini menunjukkan bahwa informasi pada tipe darah mungkin memegang peranan dalam pengaturan DVT, khususnya untuk membawa varian protein ini. Dengan demikian, penting bagi setiap orang untuk mengetahui jenis darahnya.


Omega-3 & Omega-6 untuk Kesehatan Jantung

Tubuh kita terdiri dari lemak, protein, serta karbohidrat yang jumlahnya sekitar 38% dan sisanya adalah air. Sebagian besar lemak berupa trigliserida, yaitu ester gliserol dengan tiga jenis asam lemak yang sama atau berbeda.

Beberapa jenis asam lemak dalam tubuh dapat dikelompokkan menjadi asam lemak tak jenuh jamak yang dikenal sebagai PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid). Itu adalah kelompok asam lemak yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan tidak dapat diganti senyawa lain.

PUFA terdiri dari induk asam lemak esensial atau esential fatty acid (EFA) dan asam lemak tidak jenuh turunannya yang berantai panjang atau long chain more unsaturated derivatives (LCPUFA). EFA tidak dapat disentesa denovo (dalam tubuh) manusia. Karena itu, EFA harus menjadi bagian dari menu yang dikonsumsi.

Ada dua kelompok PUFA yaitu Omega-6 dan Omega-3, yang berturut-turut disintesa dari asam linoleat (LA) serta asam alpha linolenat (ALNA). Peran EFA sudah diungkapkan sejak tahun 1929, tetapi banyak terfokus pada Omega-6. Baru tahun 1970-an peran Omega-3 mulai dianggap penting berdasarkan penelitian terhadap orang-orang Eskimo yang banyak mengonsumsi ikan. Kini baik Omega-6, Omega-3, dan Omega-9 terbukti berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, serta mencegah beberapa penyakit kronis.

Metabolisme PUFA

LA dan ALNA melalui proses desaturasi dan elonggasi di dalam sel tubuh manusia akan diubah berturut-turut menjadi long chain n-6 PUFA (Omega-6) dan long chain n-3 PUFA (Omega-3).
Dalam proses konversi LA dan ALNA, terjadi suatu kompetisi yang ketat untuk memperebutkan enzim yang sama. Secara alami, ALNA (Omega-3) memiliki daya afinitas yang lebih tinggi untuk mendapatkannya.

Long chain n-6 PUFA yang paling penting adalah di-homo-gamma linoleat (DHGLA) dan arachidonic acid (AA). Sedangkan long chain n-3 PUFA yang paling penting adalah eicosapentaenoic acid (EFA) dan decohexaenoic acid (DHA).

Fungsi utama EFA, LC n-6 PUFA dan LC n-3 PUFA adalah sebagai komponen struktural dan fungsional dari membran sel. Karena itu, mereka sangat esensial bagi pembentukan jaringan tubuh.

Kadar LC n-6 PUFA dan LC n-3 PUFA dalam membran dan rasionya diketahui sangat mempengaruhi proses biologis, misalnya fluiditas membran, transportasi zat gizi, aktivitas enzim yang melekat pada membran, dan fungsi reseptor.

Coronary Vascular Disease (CVD) sering disamakan dengan Coronary Heart Disease (CHD) atau penyakit jantung koroner. Sebelumnya, program pencegahan CVD difokuskan pada bagaimana menurunkan tingkat serum kolesterol (terutama LDL) dengan cara mereduksi konsumsi total lemak (khususnya lemak jenuh) serta kolesterol dan meningkatkan konsumsi PUFA.

Coklat Bikin Jantung Sehat

Kandungan coklat, yaitu epicathecin flavonol, terbukti bermanfaat untuk kesehatan jantung. Hal itu dikemukakan oleh para peneliti dari Heinrich-Heine University. Diharapkan hasil penelitian tersebut dapat mendorong adanya metode pengobatan yang baru untuk menjaga kesehatan jantung.

Penelitian dilakukan pada sukarelawan Kuna Indian yang tinggal di Pulau San Blas, dekat pantai Panama. Tekanan darah yang tinggi maupun tanda-tanda lainnya dari penyakit jantung cukup jarang ditemui pada kaum mereka karena mereka mengonsumsi flavonol dalam jumlah yang besar, yang terkandung dalam coklat, yaitu 3-4 gelas setiap hari. Namun, orang-orang Kuna yang bermigrasi ke kota Panama hanya mengonsumsi coklat 4 gelas per minggu. Dibandingkan dengan yang pindah ke daratan, kandungan nitrogen oksida dalam urine mereka yang tetap tinggal di Pulau San Blas adalah dua kali lebih besar. Nitrogen oksida adalah kandungan kimia yang berperan untuk aliran darah dalam arteri. Penelitian itu menunjukkan bahwa epicathecin mempengaruhi sirkulasi dalam kesehatan jantung.

Penelitian pada sukarelawan Kuna merupakan salah satu dari lima penelitian untuk menentukan peran epicathecin dalam sirkulasi darah. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa:
  1. Kadar nitrogen oksida dalam darah lebih tinggi pada mereka yang mengonsumsi flavonol (yang banyak terkandung dalam coklat) dibandingkan mereka yang mengonsumsi coklat dengan kandungan flavonol yang rendah.
  2. Kandungan epicathecin yang lebih tinggi dalam aliran darah akan menyebabkan aliran darah yang baik.
  3. Epicathecin murni yang kita konsumsi memiliki efek yang sama seperti konsumsi coklat biasa yang kaya akan flavonoid.

    Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa epicathecin merupakan salah satu kandungan dalam coklat yang memiliki manfaat sangat menguntungkan untuk kesehatan jantung.


Sumber : Proceedings of the National Academy of Science